Don’t explain. People only hear what they want to hear.

– Paulo Coelho   (via moreofamore)

(Source: kari-shma, via moreofamore)


1 week ago 10396

IT IS FREE YOUR MIND NOT NEVER MIND

(Source: mounabowa, via moreofamore)


1 week ago 11487

Jika usaha dan doa sudah dilakukan. Jangan segan meminta pertanggungjawaban Tuhan.

(Source: keyikey)

1 week ago
mywords,

Selalu ada bias dalam kata seperti rasa tak kentara diantara kita.

(Source: keyikey)

1 week ago
puisi,

Aku merindu seperti pecandu

Sakau pikiranku

Bergejolak hatiku

meronta-ronta tubuhku

Tiap sel dalam tubuhku menggebu rindu dan menagih temu.

Meracau aku.

Bajingan kamu!

(Source: keyikey)

2 weeks ago
puisi,

Pertanyaan Sederhana

Jika lidah tak bertulang, kemanakah janji yang terucap akan berpulang?

(Source: keyikey)

3 weeks ago 1
puisi,

Pada Suatu Ketika

Tangis memecah argumen yang riuh rendah.

Tumpah ruah di pipi merah mudannya.

Lelakinya memejam mata.

Nafasnya terhela perlahan menyembunyikan beban.

Rintihan hati yang terucapkan tak kunjung selesai.

Lelakinya tetap diam, matanya menatap tajam penuh nanar.

Hening menguasai hati mereka di ruangan 3x3.

Hanya isak tangis yang sesekali tak malu bersuara.

Lelakinya mulai tak tahan.

Ditariknya lengan yang menutupi wajah dihadapannya.

Diusapnya kepala penangis itu.

Lembut.. Hangat.. Tak ada yang berubah.

Dikibasnya gurai rambut hitam yang tak karuan.

Perempuan itu meronta cinta dalam pasrahnya.

Dahinya terkecup. Pipinya basah.

Lengan kuat itu melingkari tubuhnya.

Pelukan putus asa dalam hatinya.

Cinta tanpa kata batin lelakinya.

Elegi kecupan penawar racun kegelisahan bertandang.

Hening kata berganti desah suara yang merindu.

Sekejap mereka tuli dari waktu kala itu.

(Source: keyikey)

3 weeks ago 1
puisi,

A real man walks the talk

– Ike Yuningsih

(Source: keyikey)


1 month ago
myquotes,

“Dia”

Berjibaku dia dengan tenaga dan pikirannya.

Lupa dia bahwa malam akan surut di ujung sana.

Hanya  gelora semangat yang menemaninya.

Demi kebanggan untuk ukiran nama dalam nisan yang telah memberinya nyawa.

(Source: keyikey)

1 month ago
puisi,

Perang dan Perkembangan Teknologi Komunikasi

Dari judulnya aja mungkin udah bikin males baca. Tapi tunggu, coba kalian lihat sekitar. Alat komunikasi apa yang ada di dekat kalian? Blackberry, ponsel android, iphone, komputer/laptop lengkap dengan internet, radio atau televisi? 4 diantara alat-alat tersebut pasti ada disekitar kalian deh. Trus kalau ada kenapa? Begini, saya hanya ingin memberikan sedikit informasi agar teman-teman yang membaca “melek” dan mulai bijak dalam menggunakan alat komunikasi dalam bentuk apapun, tidak cuma dipake untuk haha-hihi, gengsi, dan mengeksistensikan diri.

Udah mulai ngerti kan? Yuk lanjut!

  • Kita mulai dari Perang Dunia I yang terjadi pada tahun 1914an. Mengenai sebab dan musababnya silahkan cari sendiri. Jadi waktu PD I fungsi alat cetak yang ditemukan oleh Guttenberg (1440an) dimaksimalkan demi mencapai kemenangan. Dengan demikian jadilah surat kabar atau poster-poster berupa tulisan sederhana yang dijadikan alat propaganda politik. Propaganda politik tentunya dibutuhkan oleh negara-negara yang terlibat perang saat itu
  • Kemudian ketika PD II tahun 1936 alat teknologi komunikasi yang dimanfaatkan adalah film (ditemukan tahun 1800an). Film yang ada pada saat itu awalnya adalah film bisu, kemudian mulai berkembang film-film yang menceritakan mengenai kehidupan bangsawan, pada masa itu film adalah barang mahal yang hanya dapat dikonsumsi oleh para bangsawan dan pembesar-pembesar negara seperti jendral atau komandan perang. Di Indonesia sendiri film pertama yang muncul adalah Loetoeng Kasaroeng (1926) yang diproduksi oleh Belanda. Film itu dibuat mungkin sebagai “hadiah” terselubung Belanda agar Indonesia tetap tunduk dan tidak ikut terbakar semangat membebaskan diri dari kolonial yang sedang dilanda carut marut PD II.
  • Namun peperangan dunia tidak berakhir disitu aja. Meski bangsa-bangsa jajahan termasuk Indonesia sudah terbebas dari kolonialisme bangsa kulit putih, tetapi munculah perang dingin (coldwar)  yang terjadi tahun 1947-1991. Karena perang dingin yang melibatkan ideologi dan teknologi itulah, muncul gagasan baru dari Departemen Pertahanan Amerika untuk dapat berkomunikasi dan menyusun strategi secara lebih intim di lingkungan intern mereka saja. Maka tericiptalah internet pertama berbasis LAN yang digunakan untuk meyimpan dan berbagi informasi secara cepat oleh ntelijen Amerika tersebut guna menghadapi coldwar.
  • Dan hingga saat ini, perang dingin pun sebenarnya belum berakhir. Perang pada hakikatnya tidak melulu selalu identik dengan pertumpahan darah. Tetapi dapat pula berupa perang ideologi. Lihat saja betapa sudah hampir hilangnya ideologi dan identitas bangsa kita akibat perang ideologi yang berkepanjangan. Media Massa sebagai alat teknologi komunikasi membawa begitu banyak nilai-nilai ideologi dan budaya yang secara tidak sadar telah memasuki sendi-sendi kehidupan kita. Misalnya saja fenomena Blackberry. Ponsel pintar yang diciptakan perusahaan Research In Motion (RIM) asal Kanada pada tahun 1999 sebenarnya hanya merupakan alat komunikasi yang (lagi-lagi) awal kemunculannya digunakan oleh badan intelijen Amerika untuk mengkomunikasikan hal-hal yang bersifat rahasia melalui blackberry messanger (bbm). Karena seperti yang kita ketahui, database  bbm tersebut hanya dapat diakses oleh RIM, dan dalam hal ini tentunya dkuasai oleh Badan Intelijen Amerika. Nah, karena peluncuran Blackberry ini disukai oleh pasar, maka jadilah ponsel pintar tersebut menjadi alat komunikasi yang tidak lagi hanya digunakan untuk kepentingan intelijen Amerika namun menjadi favorit bagi masyarakat luas. Tetapi, mereka tetap mendapat akses khusus untuk membuka database kalian para pengguna Blacberry di negara manapaun kalian berada.

Jadi, kemunculan teknologi komunikasi sejak dulu sampai sekarang dimanfaatkan untuk kepentingan perang. Atau bahkan mungkin sengaja diciptakan untuk kepentingan perang? Sekali lagi saya mengatakan, perang tidak hanya identik dengan senjata api, tentara, dan pertumpahan darah. Tetapi dapat pula berupa perang ideologi yang jauh lebih besar dampaknya bagi suatu negara. Dan kita sebagai pengguna alat teknologi komunikasi harus sadar sepenuhnya untuk tidak terbawa arus ideologi dan budaya yang dapat mengancam identitas asli kita sebagai bangsa Indonesia.

(Source: keyikey)

1 month ago 1
opinion, myarticle,